Simulasi Based Learning adalah metode pembelajaran yang menggunakan model tiruan — siswa berlatih keterampilan langsung di dalam simulasi, mencoba, mengamati hasilnya, dan belajar dari kesalahan tanpa risiko pada sistem yang sesungguhnya.
Siswa menjalankan skenario, mengamati hasil, memperbaiki kesalahan, lalu mengulang — siklus learning by doing.
Pemahaman konsep lewat praktik langsung: teori terasa cara kerjanya, bukan sekadar dihafal.
Lingkungan virtual yang aman, dapat diulang berkali-kali, dan memberi umpan balik seketika.
Sumber:
1. INACSL Standards of Best Practice: Simulation. Simulation in Healthcare, 2016; 11(1):32-40.
2. Society for Simulation in Healthcare (SSH) Dictionary, 2016.
3. Nesbitt, B. & Tucker, C. Designing Scenario-Based Learning for Skill Development, Learning Guild, 2020.
Tiga fase baku dalam pelaksanaan SBL — setiap sesi simulasi melewati urutan ini secara utuh.
Fasilitator menjelaskan tujuan pembelajaran, memperkenalkan skenario, membagi peran, dan menyepakati aturan bersama (fiction contract) agar peserta siap terlibat.
Peserta menjalankan skenario di lingkungan tiruan: mengambil keputusan, bertindak, dan mengalami konsekuensinya secara langsung tanpa risiko nyata.
Fase terpenting: refleksi terbimbing — Reaksi (perasaan peserta), Analisis (mengapa terjadi), dan Aplikasi (penerapan ke situasi nyata).
Sumber:
1. INACSL Standards of Best Practice: Simulation — Debriefing. Simulation in Healthcare, 2016; 11(1):32-40.
2. NES Scotland, The 3D's of Simulation: Design, Deliver, Debrief — How To Guides.
3. Society for Simulation in Healthcare (SSH) Dictionary, 2016.
4. Sawyer, T. et al. Academic Medicine, 2016.
10 paket dikirim lewat dua jalur: R1 cepat tapi bisa terganggu, R2 lambat tapi stabil. Amati log ping-nya.